Terik metahari tidak mengurungkan semangatku, dengan gesit aku langsung naik ke atas metromini yang penuh sesak oleh penumpang yang punya kesibukan sendiri-sendiri. lima belas detik kemudian mataku langsung bekerja dengan jeli, memperhatikan setiap peluang dan kesempatan yang ada dalam waktu yang sempit ini.
ah.., kalau bukan karena tuntutan perut yang harus selalu diisi, aku tak sudi berbuat seperti ini, dan mungkin kalau emak tahu di Jakarta aku hanya bekerja sebagai pencopet, entah apa yang akan dikatakannya. padahal aku adalah anak lelaki satu-satunya yang diharapkannya menjadi pengganti abah sebagai guru ngaji. hidup memenag kejam. setelah kematian abah, otomatis aku tak bisa melanjutkna sekolah, padahal waktu itu hanya tinggal empat bulan aku menyesaikan pendidikan sekolah menengah pertama di desaku. tuntutan ekonomi yang kian menghimpit, kemudian membuatku bertekad pergi ke jakarta untuk mencari kerja dan meninggalkan Emak yang sudah semakin tua bersama adik perempuanku marni di kampung.
tiba-tiba mataku tertuju pada seorang ibu-ibu setengah bayayang menyimpan Hpnya di saku roknya. aku mulai beraksi, ketika mobil mendadak berhenti karena menurunkan penumpang, aku langsung pura-pura menyenggol ibi itu, dan pada saat itulah dengan gesit aku merogoh kantong roknya dan mengambil Hp itu. kemudian akupun lansung turun dari metromini tersebut dengan wajah kubuat innocent.
" he..he..he.. lumayan juga ini hand phone. kayaknya seh laku satu jutaan lebih. tajir juga tuh ibu-ibu. " kataku sambil tersenyum sinis. namun tiba-tiba, tanpa kuduga si ibu yang tadi kucopet Hpnya itu berteriak-teriak maling ke arahku, kontan orang-orang yang yangberlalu lalang di trotoar menoleh ke arahku dan tanpa dikomando beberapa orang laki-laki mulai mengejarku. maka akupun langsung mengambil langkah seribu berlari sekencang mungkin untuk menhindar dari kejaran mereka. aku berlari memasuki gang sempit yang bau dan kumuh tanpa mempedulikan apa ayng ada disekitarku. dan ketika melewati gunungan sampah yang dikumpulkan oleh para pemulung sandal jepitku tiba-tiba terlepas begitu saja. tapi aku terus berlri walaupun tanpa alas kaki, tapi tiba-tiba kaki gundlku menginjak sesuatu yang tajam menusuk. aku berhenti sejenak karena perih yang tak tertahankan, seketika itu aku melihat darah mengalir deras dari telapak kakiku. aku menginjak pecahan beling.
aku menguatkan diri agar terus bisa berlari walaupun dengan terseok-seok. dan sampailah aku di sebuah Sekolah Dasar yang sudah mulai sepi karena hampir semua muridnya sudah pulang, tinggal beberapa orang pedagang yang masih terlihat membereskan dagangannya di luar pagar sekolah. aku menegendap-ngendap mencari tempat untuk bersandar sambil menekan luka dikakiku yang terus mengeluarkan darah untuk menghindar dari orang-orang yang lewat dijalan. tapi entah dari arah mana seorang gadis kecil berpakaian sedikit kumal, membawa beberapa balon warna warni ditangan kananya tiba-tiba menyapaku dengan senyumnya yang manis.
"hai...kak!kakak lagi ngapain sendirian disini? " dan ketika ia melihat kakiku yang terluka parah kontan ia menjerit panik " au...da..rah..!"," kakak terluka sangat parah, mari aku bantu " dan dengan cekatan ia mulai mengobati luka dikakiku dengan dedaunan yang ia ambil dari sekitar, entah kenapa aku hany diam membiarkan gadis kecil yang tak kukenal itu mengobati kakiku. menekan lukaku dengan sapu tangannya untuk menghentikan darah yang terus mengalir dan kemudian membalutnya dengan sehelai kain yang diambil dari tas kecilnya. mirip seorang dokter kecil yang sedang belajar merawat pasien ia sangat cekatan.
"betapa mulia hati gadis kecil ini, andai ia tahu aku terluka karena habis mencopet, apakah dia masih mau menolongku ?" pikirku dalam hati. dan tanpa terasa ada yang diam-diam ingin keluar dari dalam kelopak mataku. aku jadi teringat adikku marni yang kutinggalkan bersama emak di kampung.
# # #
pelan-pelan kubuka mataku yang masih terasa berat. samar-samar kulihat matahari telah tersenyum sinis diatas sana, menertawakanku.. pendaran sinarnya seakan menohokku dengan kata-kata yamg tajam menusuk " bangun...pemalas!dasar sampah masyrakat! tidak malukah kamu padaku yang selalu mendahuluimu menatap bumi? ". " ah persetan dengan ocehan matahari itu!" kataku dalam hati. aku memang benci bangun pagi. kenapa ia selalu mendatangiku setiap hari, kenapa malam tidak membunuhku saja? agar aku tak harus berjumpa dengan pagi dan tak harus pusing memikirkan perutku yang kerempeng ini harus diisi apa, agar aku tak ingat kembali semua dosa yang telah aku lakukan kemarin yang semakin menikamku pelan-pelan dengan pedang penyesalan.
tiba-tiba mataku tertuju pada selembar kertas yang tergeletak disampingku. kubaca isi tulisan yang tidak rapih itu.
" kakak, jangan banyak bergerak dulu ya! soalnya luka dikaki kakak belum sembuh. kalau kakak lapar, di pelastik warna hitam ada roti. aku ke sekolah dulu dan sore baru pulang."
ah.., kalau bukan karena tuntutan perut yang harus selalu diisi, aku tak sudi berbuat seperti ini, dan mungkin kalau emak tahu di Jakarta aku hanya bekerja sebagai pencopet, entah apa yang akan dikatakannya. padahal aku adalah anak lelaki satu-satunya yang diharapkannya menjadi pengganti abah sebagai guru ngaji. hidup memenag kejam. setelah kematian abah, otomatis aku tak bisa melanjutkna sekolah, padahal waktu itu hanya tinggal empat bulan aku menyesaikan pendidikan sekolah menengah pertama di desaku. tuntutan ekonomi yang kian menghimpit, kemudian membuatku bertekad pergi ke jakarta untuk mencari kerja dan meninggalkan Emak yang sudah semakin tua bersama adik perempuanku marni di kampung.
tiba-tiba mataku tertuju pada seorang ibu-ibu setengah bayayang menyimpan Hpnya di saku roknya. aku mulai beraksi, ketika mobil mendadak berhenti karena menurunkan penumpang, aku langsung pura-pura menyenggol ibi itu, dan pada saat itulah dengan gesit aku merogoh kantong roknya dan mengambil Hp itu. kemudian akupun lansung turun dari metromini tersebut dengan wajah kubuat innocent.
" he..he..he.. lumayan juga ini hand phone. kayaknya seh laku satu jutaan lebih. tajir juga tuh ibu-ibu. " kataku sambil tersenyum sinis. namun tiba-tiba, tanpa kuduga si ibu yang tadi kucopet Hpnya itu berteriak-teriak maling ke arahku, kontan orang-orang yang yangberlalu lalang di trotoar menoleh ke arahku dan tanpa dikomando beberapa orang laki-laki mulai mengejarku. maka akupun langsung mengambil langkah seribu berlari sekencang mungkin untuk menhindar dari kejaran mereka. aku berlari memasuki gang sempit yang bau dan kumuh tanpa mempedulikan apa ayng ada disekitarku. dan ketika melewati gunungan sampah yang dikumpulkan oleh para pemulung sandal jepitku tiba-tiba terlepas begitu saja. tapi aku terus berlri walaupun tanpa alas kaki, tapi tiba-tiba kaki gundlku menginjak sesuatu yang tajam menusuk. aku berhenti sejenak karena perih yang tak tertahankan, seketika itu aku melihat darah mengalir deras dari telapak kakiku. aku menginjak pecahan beling.
aku menguatkan diri agar terus bisa berlari walaupun dengan terseok-seok. dan sampailah aku di sebuah Sekolah Dasar yang sudah mulai sepi karena hampir semua muridnya sudah pulang, tinggal beberapa orang pedagang yang masih terlihat membereskan dagangannya di luar pagar sekolah. aku menegendap-ngendap mencari tempat untuk bersandar sambil menekan luka dikakiku yang terus mengeluarkan darah untuk menghindar dari orang-orang yang lewat dijalan. tapi entah dari arah mana seorang gadis kecil berpakaian sedikit kumal, membawa beberapa balon warna warni ditangan kananya tiba-tiba menyapaku dengan senyumnya yang manis.
"hai...kak!kakak lagi ngapain sendirian disini? " dan ketika ia melihat kakiku yang terluka parah kontan ia menjerit panik " au...da..rah..!"," kakak terluka sangat parah, mari aku bantu " dan dengan cekatan ia mulai mengobati luka dikakiku dengan dedaunan yang ia ambil dari sekitar, entah kenapa aku hany diam membiarkan gadis kecil yang tak kukenal itu mengobati kakiku. menekan lukaku dengan sapu tangannya untuk menghentikan darah yang terus mengalir dan kemudian membalutnya dengan sehelai kain yang diambil dari tas kecilnya. mirip seorang dokter kecil yang sedang belajar merawat pasien ia sangat cekatan.
"betapa mulia hati gadis kecil ini, andai ia tahu aku terluka karena habis mencopet, apakah dia masih mau menolongku ?" pikirku dalam hati. dan tanpa terasa ada yang diam-diam ingin keluar dari dalam kelopak mataku. aku jadi teringat adikku marni yang kutinggalkan bersama emak di kampung.
# # #
pelan-pelan kubuka mataku yang masih terasa berat. samar-samar kulihat matahari telah tersenyum sinis diatas sana, menertawakanku.. pendaran sinarnya seakan menohokku dengan kata-kata yamg tajam menusuk " bangun...pemalas!dasar sampah masyrakat! tidak malukah kamu padaku yang selalu mendahuluimu menatap bumi? ". " ah persetan dengan ocehan matahari itu!" kataku dalam hati. aku memang benci bangun pagi. kenapa ia selalu mendatangiku setiap hari, kenapa malam tidak membunuhku saja? agar aku tak harus berjumpa dengan pagi dan tak harus pusing memikirkan perutku yang kerempeng ini harus diisi apa, agar aku tak ingat kembali semua dosa yang telah aku lakukan kemarin yang semakin menikamku pelan-pelan dengan pedang penyesalan.
tiba-tiba mataku tertuju pada selembar kertas yang tergeletak disampingku. kubaca isi tulisan yang tidak rapih itu.
" kakak, jangan banyak bergerak dulu ya! soalnya luka dikaki kakak belum sembuh. kalau kakak lapar, di pelastik warna hitam ada roti. aku ke sekolah dulu dan sore baru pulang."